-->

Notification

×

Iklan

Cinta Tanah Air Tak Butuh Pangkat dan Seragam

Minggu, 05 Juli 2026 | Juli 05, 2026 WIB Last Updated 2026-07-05T14:57:25Z
                        
               Oleh : Amru Siregar, SH


"Negeri ini darurat pengkhianatan" begitu kata Gus Dur dulu. Hari ini pengkhianatan itu punya wajah baru, rapi, berseragam, dan bersertifikat.


Kasus penangkapan Brigjen Pol Lulu Muhammad Iqbal dan Kolonel Budi Utomo dalam pusaran dugaan korupsi MBG menampar kita semua. Dua pangkat tinggi. Dua alumni akademi terbaik bangsa. Dua orang yang sumpahnya adalah "setia kepada NKRI".


Fakta ini menggugurkan satu mitos paling berbahaya di kepala kita : bahwa cinta tanah air punya parameter. Bahwa aparat TNI/Polri otomatis lebih cinta negeri ini dibanding guru, petani, pedagang, atau aktivis sipil. 


Tidak ada parameternya. Tidak Ada Rumusnya


Cinta tanah air diukur dari perbuatan, bukan dari seragam. Dari kejujuran mengelola uang makan anak sekolah, bukan dari upacara 17-an paling khidmat. 


Hari ini kita dipertontonkan : pengkhianatan bangsa bermental korup justru dilakukan oleh sebagian alumni dan anggota TNI/Polri aktif. Mereka yang dulu dididik "Sekali berkhianat, hancurkan". Sekarang justru menghancurkan kepercayaan publik lewat monopoli food tray dan markup motor listrik MBG.


Ini bukan untuk menghakimi institusi : Masih banyak prajurit dan polisi jujur yang rela kehujanan jaga pos. Tapi kita harus jujur, ketika sistem memaksa semua orang "harus untung", maka pangkat setinggi apapun bisa goyah.


Karena itu, tajuk ini bukan jeritan benci. Ini jeritan sayang. Sayang pada TNI/Polri yang tercoreng karena ulah segelintir orang. Sayang pada MBG yang niatnya mulia tapi jalannya kotor.


Solusinya sederhana : cabut parameter palsu itu. Setarakan semua warga negara di depan hukum dan di depan pengawas publik. Guru yang lapor markup tray punya nilai cinta tanah air yang sama dengan jenderal yang menolak suap.


Negara ini akan selamat bukan karena pangkatnya tinggi, tapi karena rakyatnya waras dan berani jujur. Apapun seragamnya.


Lintas 98 percaya : sipil dan aparat adalah dua kaki NKRI. Kalau satu pincang karena korupsi, yang satu lagi harus menopang. Bukan saling curiga.


Penulis Ketua JARNAS 98 Sumut, juga Juru Bicara Lintas 98 Sumut

×
Berita Terbaru Update