![]() |
| Ketua Bidang Hikmah dan Kebijakan Publik Pemuda Muhammadiyah Sumatera Utara, Seftian Eko Pranata. |
Metro7news.com|Medan - Pelemahan nilai tukar rupiah yang kini menyentuh kisaran Rp17.300 per dolar AS mendapat perhatian dari Ketua Bidang Hikmah dan Kebijakan Publik Pemuda Muhammadiyah Sumatera Utara, Seftian Eko Pranata.
Dirinya menilai situasi pelemahan rupiah kali ini memang serius, namun tidak dapat diposisikan sebagai krisis ekonomi seperti yang pernah terjadi pada 1998 maupun saat gejolak pandemi COVID-19 pada 2020.
Dalam penjelasannya, Seftian menyampaikan, bahwa tekanan terhadap rupiah saat ini didorong oleh dinamika global yang kompleks. Penguatan dolar AS yang terus berlanjut akibat kebijakan suku bunga tinggi The Federal Reserve, ketidakpastian geopolitik dunia, serta kenaikan harga minyak internasional menjadi kombinasi faktor yang mendorong kebutuhan dolar lebih besar dibanding biasanya. Kondisi ini turut menekan mata uang hampir semua negara berkembang, termasuk Indonesia.
Menurutnya, masyarakat perlu memahami bahwa meskipun secara nominal angka pelemahan rupiah saat ini tampak mendekati level yang pernah terjadi pada krisis 1998, karakter dan fondasi ekonomi Indonesia kini jauh lebih kokoh. Ia menegaskan bahwa krisis 1998 merupakan krisis multidimensi yang ditandai runtuhnya sistem perbankan nasional, tingginya inflasi hingga melampaui 70 persen
Dan cadangan devisa yang terkuras, dan instabilitas politik yang memicu hilangnya kepercayaan pasar secara menyeluruh. Sementara itu, pelemahan rupiah pada 2026 bersifat eksternal dan tidak menunjukkan kerusakan struktural pada fundamental ekonomi.
Seftian juga membandingkan kondisi saat pandemi COVID-19 tahun 2020, ketika rupiah sempat menyentuh level Rp16.575 per dolar AS. Pada periode itu, pelemahan lebih disebabkan kepanikan global akibat ketidakpastian kesehatan dan berhentinya aktivitas ekonomi dunia. Namun, sistem perbankan masih stabil, inflasi tetap rendah.
Serta cadangan devisa berada pada posisi cukup. Situasi 2026, menurutnya, lebih mirip 2020 dari sisi sumber tekanan, namun dorongan penguatan dolar AS saat ini lebih agresif karena tingginya suku bunga di AS yang membuat pasar global beralih ke aset aman.
Ia menjelaskan bahwa yang perlu dikelola oleh pemerintah Indonesia dan Bank Indonesia saat ini adalah aspek kepercayaan pasar dan psikologi publik. Menurutnya, selama koordinasi antara otoritas fiskal dan moneter berjalan baik, pelemahan rupiah dapat dikendalikan agar tidak menimbulkan kepanikan dan gejolak yang tidak perlu.
Seftian juga mendorong komunikasi publik yang konsisten untuk menghindari misinformasi dan spekulasi yang dapat memperburuk kondisi pasar.
Dalam pandangannya, pelemahan rupiah ke Rp17.300 merupakan peringatan penting bagi pemerintah untuk memperkuat ketahanan ekonomi jangka panjang. Ia menyoroti perlunya percepatan hilirisasi industri, diversifikasi sumber energi, peningkatan cadangan strategis, serta penguatan sektor pangan dan logistik untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor.
Menurutnya, sektor-sektor yang sangat bergantung pada bahan baku impor harus mendapat perhatian khusus karena pelemahan kurs dapat meningkatkan biaya produksi dan harga barang konsumsi.
Seftian menutup pernyataannya dengan mengingatkan bahwa pelemahan rupiah tidak boleh direspons dengan kepanikan, namun harus dijadikan momentum evaluasi kebijakan ekonomi nasional.
Ia menekankan bahwa Indonesia memiliki pengalaman panjang menghadapi tekanan global, dan dengan koordinasi kebijakan yang tepat, gejolak nilai tukar kali ini tetap berada dalam batas yang dapat dikelola.
(fitri)
