-->

Notification

×

Iklan


Mari Rayakan Seremoni

Minggu, 22 Mei 2022 | Mei 22, 2022 WIB Last Updated 2022-05-22T06:47:46Z

                  Oleh : Alfiannur Syafitri   

     

Sebagai bangsa besar, bermartabat, selalu mengagungkan kolaborasi. Maka Hari Kebangkitan Nasional layak dirayakan dengan penuh semangat dalam rutinitas seremonial.


Seremoni-seremoni yang sama, yang kerap juga kita pertontonkan ketika ada momen penting lain selain wacana kebangsaan, seperti  hari keagamaan, dan peristiwa penting publik lainnya.


Bagi instansi pemerintahan acara akan dilakukan dengan upacara bendera, dblow up media massa, tak lupa tentunya dengan berbagai gaya.


Bagi masyarakat awam tak perlu berkecil hati, banyak media sosial, tinggal ubah foto dalam berbagai sesi, lantas share sebagai tanda ikut memperingati situasi.


Peringatan Hari Kebangkitan Nasional 2022 kita rayakan, ditengah adanya satu insiden memperihatinkan. Ketika seorang warga negara kita, Ustadz Abdul Somad dicekal masuk oleh Negeri Singapura. Dan tak sampai sehari kemudian, Pejabat penting negara Singapura bergegas menemui penjabat penting kita di Jakarta, lalu keluarlah pernyataan hasil pertemuan keduanya. Lewat pernyataan pejabat tinggi RI di media massa nasional.


"Singapura Negara Sahabat dan Mitra Strategis " (https://www.google.co.id/amp/s/amp.kompas.com/nasional/read/2022/05/18/08164561/menhan-prabowo-singapura-negara-sahabat-dan-mitra-strategis) 


Kita tidak tahu sestrategis apa pertemuan kedua pejabat dari kedua negara. Yang pasti adanya salahseorang warga negara RI yang ditolak masuk, tidak masuk jadi pembicaraan elit kedua pejabat tinggi itu. 


Bagi pejabat Singapura, mungkin tak perlu membicarakan masalah remeh-temeh seperti itu. Apalagi sampai mengungkapkan dasar penolakan warga negara RI tadi. Dan masalahpun dianggap tidak pernah terjadi, selain hanya prosedur administrasi imigrasi biasa sebuah negara.


Klik, lantas karena masalah penolakan masuk warga negara RI tadi  karena sudah terlanjur jadi konsumsi publik. Pejabat istana kepresidenan pun lantas memberikan keterangan. Bahwa hal tersebut adalah hal prosedural, dan tidak perlu diributkan.


Kilas Balik


Jika kita melakukan kilas balik kepimpinan Pakde Jokowi, bahwa ada kecenderungan pemerintahan baru untuk bersikap mesra dengan RRC, serta negeri-negeri sahabat mereka seperti negara-negara eks Uni Soviet.


Tentunya hal tersebut sungguh menggusarkan negara-negara Barat yang tergabung dalam NATO dan kenderaan ekonomi besarnya IMF. Tegas kita katakan, dalam era pemerintahan ini, NATO dan IMF nya terpinggirkan, atau mulai dilupakan.


Bahkan saat perang Rusia-Ukraina meletus, Indonesia yang diminta untuk memihak blok barat, menunjukkan sikap independen dan netral. Serta dengan berani tetap mengundang Rusia hadir dalam pertemuan para pemimpin G-20 di Denpasar November 2022 mendatang. Sebagai landasan mendasar dalam sikap politik luar negeri bebas dan aktif, dan direalisasikan dalam Gerakan Non Blok.


Negeri kita yang dulunya dikenal sangat dekat dalam bidang ekonomi dengan USA dan sekutunya terkesan mulai berani angkat gigi, serta mulai kepakkan  sayap atas kebijakan polisi dunia Amerika dan sekutunya. Dan tentunya,.ditengah situasi Perang Rusia-Ukraina menggusarkan kelompok barat.


Singapura sebagai sebuah negeri jajahan dan koloni Inggris, yang memisahkan diri dari Malaysia. Dikenal sebagai perwakilan sekutu di Asia Tenggara. 


Sebagai  negara yang hanya mengandalkan pendapatan dari sektor jasa dan perdagangan antara, Singapura merupakan perwakilan USA dan sekutunya dalam memantau tetangganya negara-negara di Asia Tenggara.


Singapura memiliki masalah dalam identitas dan karakter kebangsaan. Yang membuat mereka memilih untuk nyaman dalam naungan Amerika dan sekutunya. Dan menjadi penyambung lidah bagi AS dan sekutunya, bagi negara-negara Asia Tenggara.


Itulah sebabnya penolakan masuk terhadap seorang warganegara NKRI bernama Abdul Somad, dapat dianggap sebagai kebijakan antaran dalam menguji citra dan wibawa seorang Jokowi pada masa-masa akhir pemerintahannya.


Dan kesan yang tertangkap, memang Jokowi dibiarkan sendiri oleh para pembantunya. 


Bola liar ini tentunya harus diselesaikan dengan baik oleh para pembantu presiden. Jangan jabatan jadi pembantu presiden mau, tapi saat menyelesaikan masalah, semuanya berlalu. Menyisakan sendiri seorang JOKOWI.


Kita punya harga diri, jika.seorang profesor bisa diberlakukan semena-mena, bahkan untuk  menghantarkan dot bayi yang berada dalam ruangan berbeda saja tak bisa. Bagaimana pula keberadaan warga negara NKRI lainnya yang akan mengunjungi Singapura, dan bakal diperlakukan hanyalah sebagai kuli yang ingin mencari nafkah ditanah Raja Singa.


Selamat Hari Kebangkitan Nasional. (***)


Penulis adalah Jurnalis dan Peneliti              Keuangan serta Pemerhati Kebijakan            Publik.





×
Berita Terbaru Update