-->

Notification

×

Iklan

Ucapan Rasa Syukur di HUT RI, Saung Ksatria Gelar Adat Budaya Nasi Tumpeng

Rabu, 17 Agustus 2022 | Agustus 17, 2022 WIB Last Updated 2022-08-17T04:37:29Z

 

Nasi tumpeng disajikan berhadapan untuk di santap bersama dengan ucapan rasa syukur dari Pendiri dan Pembina Saung Ksatria dan juga para Alim Ulama. (foto : zen)

Metro7news.com | Brebes - Gegap gempita Rakyat Indonesia dalam menyambut  perayaan hari ulang tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 77 tahun yang jatuh pada tangga 17 Agustus 2022. Selain mengadakan hiburan dan perlombaan, lain halnya dengan Saung Ksatria.


Saung Ksatria menunjukan rasa syukur dan kecintaannya pada tanah air di HUT RI yang ke 77 tahun ini, mereka menggelar adat budaya nasi tumpeng. Ini merupakan tradisi dari tahun ke tahun.



Nasi yang bentuknya kerucut biasanya dihidangkan dengan berbagai lauk pauk, seperti mi goreng, tempe kering, serundeng, perkedel, hingga ayam goreng di sampingnya, tak ketinggalan dengan bendera kecil sang saka merah putih menancap tegak di tengah tengah nasi kuning atau tumpeng tersebut.


"Nasi tumpeng kerap disajikan dalam acara selamatan dan syukuran sebagai bentuk rasa harapan atau rasa syukur akan sesuatu," papar Pembina Saung Ksatria, Mas Raden Wisnu kepada yang hadir dalam acara tersebut.


Menurutnya, merayakaan hari kemerdekaan bisa menjadi salah satu bentuk syukur atas kemerdekaan yang dapat dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia.


"Lebih utamanya lagi adalah kita untuk membangkitkan kembali rasa nasionalisme dan kecintaan dalam mewarisi semangat perjuangan dari para pahlawan kita," ungkapnya.


Dalam memperingati hari kemerdekaan ini, masyarakat berdoa dan berharap agar Indonesia selalu dalam keadaan aman dan sejahtera.


Dalam hal ini, Mas Raden menjelaskan perbedaan selamatan dengan syukuran, yang menurutnya merupakan dua kata yang memiliki definisi yang berbeda.


“Nasi tumpeng biasanya ada di acara selamatan dan syukuran. Terkadang kita rancu dengan dua kata itu, tetapi sebenarnya keduanya berbeda,” kata Mas Raden Wisnu, Selasa (16/08/22).


Kata selamatan merujuk pada harapan atas sesuatu yang belum dikerjakan atau belum terjadi, sementara syukuran merujuk pada sesuatu yang telah terjadi dan patut disyukuri.


“Misalnya Indonesia sudah merdeka, itu syukuran. Sedangkan selamatan misalnya meminta keselamatan bagi Indonesia ke depannya. Konsep bersyukur dan meminta apa pun selalu berkaitan dengan Tuhan,” tambahnya.


Beliau juga menjelaskan kepada para santri dan alim ulama, bahwa adat dan budaya dengan tumpengan ini, bukan hanya malam ini saja, tetapi di setiap malam Jum'at rutinan yang di adakan di Saung Ksatria.


Menilik dari filosofinya, nasi tumpeng merupakan sebuah representasi antara hubungan manusia dengan Tuhannya, serta manusia dengan sesamanya. Hal ini digambarkan dengan bentuknya yang kerucut menyerupai gunung.


Dengan demikian menyebutnya sebagai konsep Ketuhanan sebagai sesuatu yang tinggi, besar, dan memiliki puncak.


Demikian pula nasi tumpeng yang memiliki bentuk menyerupai gunung, sebagai simbol syukur saat merayakan sesuatu dan bentuk harapannya kepada Tuhan.


Penjelasan dari abah Karso selaku Pemangku Adat Keluarga Besar Saung Ksatria mengatakan, tumpengan bukanlah satu acara yang asing dan sudah seperti kegiatan rutin, cuma di malam hari kemerdekaan NKRI ini yang membedakan adalah tumpeng yang dibuat lebih banyak, karena setiap satu keluarga, satu nasi tumpengnya.


"Saung Ksatria yang berada di Gang Elang Desa Kemurang Kulon, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Brebes, ini wajib membuat satu tumpeng seperti tahun kemarin," tegas abah Karso panggilan akrabnya.


Sementara dari beberapa sumber dari peserta yang dapat kami wawancarai, seperti Mas Fatih panggilan akrabnya mengatakan, harapan yang terbesar adalah bagaimana kegiatan-kegiatan yang sakral di Saung Ksatria ini bisa menjadi tauladan untuk ditiru seluruh rakyat Indonesia sebagai wujud selamatan dan syukuran atas kemerdekaan Indonesia.


Dimana para pahlawan yang telah di memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dengan darahnya merupakan wujud pengorban tanpa ada jasanya.


"Kita dan anak cucu agar bisa menghormati dan menghargai pengorbanan para pahlawan kita tanpa tanda jasa itu," kata Fatih yang berambut gondrong itu, sembari mengatakan, Merdekan dirimu dari sifat pencundang dan penjilat yang ada dalam nafsu menjajah Mu.


(Zen)

×
Berita Terbaru Update