Metro7news.com | Percut Sei Tuan – Menjamurnya vendor-vendor buku yang masuk ke sekolah-sekolah tidak luput ikut dari peran petinggi Dinas Pendidikan Kabupaten Deli Serdang.
Sehingga, vendor-vendor tersebut dengan leluasanya memasarkan buku di sekolah, Bahakan mereka kadangkala mengancam para kepala sekolah (Kepsek) akan melaporkan Kepsek terkait apabila tidak mau menerima pesanan dari mereka (Vendor)
Sampai saat ini Kepsek di Kecamatan Percut
Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang menjadi dilema menghadapi para vendor yang memaksakan
harus membayar buku yang sudah di terima para Kepsek.
Parahnya lagi, ada vendor yang sampai mengancam apabila tidak mau mengambil pesanan buku, bahkan membawa-bawa nama orang nomor satu Dinas Pendidikan
Kabupaten Deli Serdang agar Kepsek agar mengoptimalkan orderan buku dari mereka.
Kalau Kepsek tidak mengoptimalkan pengambilan buku, kata salah seorang sumber, akan dilaporkan ke dinas. Sehingga Kepsek ketakutan.
Mengenai pembayaran buku yang sudah diterima, sempat menjadi kericuhan dan menjadi pembahasan dalam rapat Kepsek di salah satu sekolah.
Menurut sumber, Kepsek bukan tidak mau membayar, tetapi mereka bisa bayar pada tahap 3. Karena keuangan sekolah saat ini sudah tidak ada lagi.
Namun, sudah ada juga Kepsek yang membayar sebahagian vendor tersebut pada tahap 2. Sementara bagi Kepsek yang yang memasuki pembayaran di RKAS pada tahap 3, harus dibayar juga. Inilah yang di protes para Kepsek.
“Bukan ini
aja kebutuhan sekolah, masih ada lagi yang lain untuk di bayar, sabarlah,” jelas
sumber tersebut kepada awak media, Senin (05/09/22).
Informasi yang diterim, bagi Kepsek yang sudah membayar, mereka (Kepsek) sampai-sampai berhutang demi membayar buku tersebut.
Terpisah,
Direktur Eksekutif Lumbung Amanat Rakyat Sumatera Utara (LARaS), Firdaus
Tanjung menyanyangkan sikap arogansi yang ditunjuk oleh salah satu vendor kepada
para Kepsek.
Menurut
Firdaus Tanjung, dalam hal ini mungkin ada keterlibatan petinggi Dinas
Pendidikan Kabupaten Deli Serdang dalam bisnis buku.
Soalnya,
salah satu vendor berani mengancam Kepsek dengan membawa nama dinas untuk kepentingan
bisnis mereka.
“Kita minta
kepada Kadis Pendidikan untuk menegur vendor yang membawa-bawa nama dinas.
Karena apa yang sudah dilakukan mereka tidak bisa di tolerir lagi, dan merusak nama
baik dan citra dinas,” tegas Firdaus Tanjung.
Menurutnya, dana BOS yang diterima sekolah, rata-rata habis untuk pembelian buku. Sementara buku-buku tersebut banyak yang tidak terpakai, dan mengudang di Perpustakaan.
Awak media sudah
coba mengkonfirmasi melalui WhatsApps kepada Manajer BOS, juga Sekretaris Dinas
Pendidikan, Yusnaldi, sampai berita ini di naikan belum ada jawaban. (Bersambung)
(red)
