-->

Notification

×

Iklan

Bajingan yang Pintar

Kamis, 03 Agustus 2023 | Agustus 03, 2023 WIB Last Updated 2023-08-02T23:35:58Z

 


                   Oleh : Alfiannur Syafitri

Karena menolak dan  keberatan disebut sebagai Bajingan yang Bodoh. Maka sebagai warganegara yang baik, saya harus berusaha menjadi Bajingan yang Pintar.


Tentu saja usaha untuk menjadi Bajingan yang Pintar bukanlah hal yang gampang dan mudah. Karena tentu saja saya harus menambah, serta berusaha  memperbanyak referensi dari kalimat atau kata Bodoh serta Pintar. Begitu pula dengan kalimat atau kata Bajingan.


Bodoh atau Pintar hanyalah sebuah situasi individual serta personal, yang sama sekali tidak mempunyai konsekwensi yang berhubungan dengan status administrasi pemerintahan dihadapan hukum dan konstitusi perundangan-undangan. Hingga dipastikan, saya tidak bakal dipenjara, bila ada orang lain lain yang menyebut saya sebagai orang yang bodoh. 


Demikian pula sebaliknya, dengan Kalimat Pintar. Bila ada yang kemudian agak rabun mata dan menyebut saya sebagai Orang yang Pintar. Tentu saja penyebutan itu tidak lantas membuat saya akan mendapat gelar bintang tanda jasa dari negara, bahkan sampai diangkat menjadi Pahlawan Nasional.


Bodoh atau Pintar hanyalah sebuah kalimat bersayap yang mempunyai makna ganda, dan beragam multitafsir. Hingga diragukan untuk dapat ditentukan apalagi dipaksakan akurasi maknanya pada satu titik bentuk tertentu. Bahkan oleh seorang ahli pakar tata bahasa yang sudah masyur kompetensi akademiknya sekalipun. Untuk sampai di identikkan, kalimat atau perkataan Bodoh dan Pintar, dapat dikurung pada sebuah nilai-arti tertentu, dengan nilai terbatas yang bermakna merendahkan, menghina, menghujat bahkan fitnah. Ataupun menyanjung, memuji, juga memuja.


Ketika ada diantara kita yang merasa sangat tersanjung saat jatuh cinta atau merasa dicintai oleh orang lain, tidak jarang banyak diantara kita yang merasa kesulitan sewaktu mengungkapkan jutaan rasa akibat mencinta dan dicinta ini. 


Jadi jangan langsung bertindak lantang sembari meneriakkan yel-yel hidup atau mati, seraya membuat ancang-ancang untuk melakukan teknik bantingan seperti aksi ala smackdown. Saat kekasih ataupun pasangan anda melontarkan kalimat seperti, "Sungguh aku tak mengerti betapa bodohnya dirimu, karena telah mencintai diriku".


Atau kalimat lain yang juga memiliki makna ganda, seperti, "Betapa pintarnya dirimu, sampai membuat diriku terjatuh dalam bujuk rayu hingga tak mampu melupakan bahkan jauh darimu".


Begitu juga saat kalimat dan kata Pintar atau Bodoh, dihubungkan dengan sikap dan kebijakan yang terkait dengan publik serta hajat hidup orang banyak. Kalimat dan kata Bodoh serta Pintar ini, tentu saja tidak dapat menghakimi atau menilai sampai memvonis satu kebijakan publik yang akan, sedang, atau telah dilaksanakan. 


Mereka yang sepakat dengan sebuah kebijakan, mungkin saja akan memuji setinggi langit kebijakan yang diambil itu dengan perkataan, "Stimulus  Pintar memecahkan kebekuan kebangsaan". Dan bagi sebahagian lagi  yang  menentang kebijakan, bisa saja kemudian keluar lontaran kalimat, "Aksi bodoh dalam menghadapi kedunguan".


Lantas bila kalimat Bodoh dan Pintar tadi digunakan untuk mengoreksi, mengkritisi ataupun mengapresiasi  kebijakan publik yang diambil oleh pejabat publik. Dapatkah kalimat-kalimat dan perkataan itu, dianggap sebagai hujatan menyerang pribadi, ataupun pujian terhadap pribadi pejabat publik yang membuat kebijakan publik tadi ? Tentu saja tidak. Bagaimana caranya untuk menghakimi sebuah dialog yang berisi pertentangan ide serta silang pemikiran ? Dalam sebuah negara, yang katanya tengah memuja proses berdemokrasi ? 


Siapapun yang tengah dikritisi, dipuji, akibat sebuah kebijakan publik yang diambil dan dijalankan. Hal itu tentu saja sebagai konsekwensi terhadap keberadaan diri mereka karena menjadi tokoh dan pejabat publik. 


Penolakan, atau juga dukungan yang muncul tadi merupakan bentuk adanya reaksi, dari sikap dan kebijakan yang dilakukan oleh jabatan sebagai tokoh juga pejabat publik. Jadi bukan karena sikap atau prilaku personal pribadinya.


Mungkinkah memenjarakan sebuah ide dan pemikiran ? hanya karena adanya pertentangan dalam cara pandang diantara ide dan pemikiran yang saling silang bersimpangan itu. Pastinya tidak mungkin dan mustahil.


Atau coba dibalik, masyarakat ataupun publik tentu saja tidak akan melakukan reaksi terhadap sikap pribadi dan personal seseorang, yang mengambil sikap pribadi terhadap masalah dan hal pribadinya sendiri pula. Misal si A dari Kota X, lebih memilih memelihara Kucing, dibandingkan pilihan kebanyakan tetangganya yang lebih banyak memelihara Merpati. 


Tentu saja tidak ada yang akan meributkan prilaku si A ini, karena apa yang dilakukannya adalah hal pribadi yang sifatnya untuk pribadi. Jadi sama sekali tidak terkait dengan masalah publik dan kebijakan publik, yang disikapi oleh kebijakan pejabat publik pula. Jadi andainyapun ditemukan indikasi koreksi beraroma hujat, yang paling mungkin adalah datangnya  fitnah dari tetangga atau juga dendam kesumat mantan mertua. 


Bajingan yang Dilupakan

Dahulunya dibeberapa daerah di Jawa, perkataan ataupun kalimat BAJINGAN merujuk serta menunjuk dan mengakui keberadaan sebuah pekerjaan, yakni  menunjuk kepada Sais yang bertugas menjadi Supir dari Kereta Sapi atau Pedati.


Namanya saja hewan yang dijadikan sebagai alat transportasi, pastilah seringkali terjadi inkonsistensi dari jadwal kedatangan dan keberangkatan pedati atau kereta kuda. 


Kadang saat akan dipacu untuk segera berangkat, kerap tertunda karena Sang Sapi bertingkah. Misalnya saja mogok jalan, karena kurang makan. Atau ketika si Sapi sudah siap untuk berangkat, malah tertunda karena kini kondisinya terbalik. Malah si Sais yang harus bolak-balik ke kamar mandi buat buang hajat, akibat buru-buru mengejar dan mengantarkan penumpang, yang membuat sang Sais belum makan seharian.


Inkonsistensi dari jadwal kedatangan serta  keberangkatan Kereta Sapi ini pula, yang melahirkan istilah dari para penumpang sebagai luapan juga ungkapan kekesalan dan rasa geram dalam perkataan, "Dasar Bajingan".


Artinya sebagai penumpang, para penumpang ini sangat  paham. Bahwa Kereta Pedati Sado atau Kuda yang ditarik  hewan Sapi sebagai tenaga utama, tidak dapat diandalkan ketepatan waktunya akibat kondisi situasional tertentu diatas. Berbeda dengan keberadaan mesin transportasi yang siap dipakai dan digeber kapan saja semaunya oleh manusia pemilik dan pengguna alat transportasi mesin itu.


Apakah kalimat "Dasar Bajingan" itu dapat dianggap sebagai sebuah cacian, makian juga umpatan. Tentu saja tidak, karena kalimat tadi lebih sebagai deklarasi pengakuan memaklumi serta penerimaan, atas kondisi keterbatasan kenderaan angkutan yang menggunakan tenaga hewan sebagai tenaga utama penggeraknya.


Tentunya bila kita kembali kepada kalimat Bodoh, Pintar, bahkan Bajingan. Kesemua kalimat ini tentu saja tidak dapat dijadikan sebagai alasan, ataupun tudingan juga tuduhan, apalagi petunjuk awal terjadinya satu riwayat perbuatan pidana, semisal penghinaan atau pencemaran nama baik. 


Sebab saat memaknai perkataan dan kalimat yang bersayap, seperti kalimat-kalimat diatas. Tentu saja bakal memiliki banyak pemaknaan yang berbeda-beda pula, dari mereka yang memiliki berbagai latar belakang berbeda dalam memahami  dan mengartikan kalimat perkataan yang masuk wilayah abu-abu ini.


Tentunya fakta juga kenyataan inilah yang  melatarbelakangi penolakan saya dapat  dianggap, dituding bahkan dituduh sebagai Bajingan yang Bodoh. Dan situasi itu pula yang memotivasi saya, hingga  tidak punya pilihan lain. Selain berusaha keras sampai menjadi Bajingan yang Pintar.


Resep utama agar menjadi Bajingan yang Pintar, yang terpenting untuk segera dilakukan adalah, dengan  menghindari luapan kemarahan yang tanpa memilki dasar. Menimbang apakah kemarahan itu didasari dengan alasan-alasan yang dapat diterima oleh logika. Atau sekedar kemarahan berbungkus ego, hanya karena sebelumnya tidak ada yang mau maju untuk berani melakukan kritik.


Kemarahan yang meluap tanpa terkendali, akan menutup daya nalar, gairah untuk berpikir. Sekaligus menutup mata hati dan nurani setiap warga negara.


Ketika ada orang lain yang juga merupakan saudara sebangsa dan setanah air. Lantas  menerbangkan ide dan pemikirannya tentang masalah masalah problematika kebangsaan. Tidak masalah bagi kita.  Meskipun telah nyata, ide-ide dan pemikirannya itu, berbeda dengan ide dan pemikiran yang kita miliki dan punyai.


Karena bisa saja, mungkin kami memiliki perbedaan ide, tapi memiliki persamaan dalam melihat adanya satu permasalahan yang sama. Atau yang lebih kontras lagi, kami sama-sama berbeda terkait ide, pemikiran, juga memiliki beragam  perbedaan dalam memandang permasalahan. Walau memiliki banyak pertentangan dan perbedaan, realitanya  ternyata kami memiliki persamaan, yaitu  sama-sama belum memiliki solusi guna menuntaskan permasalahan. 


Karenanya sama seperti sikap Bung Karno dan Bung Hatta, saat memproklamirkan bangsa ini. Mereka sepakat untuk hidup bersama-sama sebagai sebuah bangsa, karena dilatar belakangi data, fakta juga realitas lapangan tentang banyaknya perbedaan.


Namun inspirasi dan aspirasi menuju kebersamaan sebagai sebuah bangsa tetap wajib untuk diwujudkan, dilatar belakangi  berbagai ketidaksamaan tadi. Hingga jadilah satu kesepakatan dan kesepahaman, untuk hidup bersama sebagai sebuah bangsa yakni Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sebagai jawaban bagi solusi, karena banyaknya perbedaan yang ditemukan dalam masyarakat, suku-bangsa yang tersebar di nusantara. Jadi harus dipahami, bahwa para pendiri bangsa sendiri, sejak awal  sefakat untuk bersama, karena memang berbeda-berbeda.


Semoga fenomena yang tengah terjadi ini, akan membuat saya menjadi seorang Bajingan yang Pintar.


(Alf-020823).


Profil Penulis :

Penulis jurnalis Kompetensi Utama di Medan. Eks Trainer ICIP-Jakarta 2005. Periset Kebijakan dan Anggaran Publik GSRI Medan. Penerima beasiswa Liputan Investigasi LSPP-Jakarta 2012. Penerima beasiswa Liputan Mendalam LSPP-Jakarta 2014.

×
Berita Terbaru Update